Beranda blog

Memasak Kenduri Jamak Pulau Penyengat

0

Kegiatan hari Rabu (07/05) untuk persiapan memasak tidak terlalu banyak. Sejak pukul 07.30 WIB, para juru masak sudah mendatangi rumah Pak De. Pekerjaan memasak untuk untuk hari rabu ini dibantu oleh Mak Ani, Mak Azizah, Mak Pit, dan Kak Tika. 

Pekerjaan dimulai dengan memotong nenas lalu merebus dengan air gula, mengupas bawang-bawang serta cabai lalu semua itu di blender. Semua Bumbu-bumbu dipersiapkan untuk disimpan di peti es.

Proses persiapan perbumbuan tersebut dikerjakan tim perempuan. Pak De bertugas untuk belanja semua bahan di Pasar Tanjungpinang. Selain berbelanja, Pak De juga bertugas menyiapkan makan siang untuk disantap usai pekerjaan selesai. Cuaca hari itu cukup terik, air es sirup merah menjadi pilihan untuk untuk menemani saat bekerja.



Setelah pekerjaan semua selesai, kelima pemasak ini menyantap makan siang bersama. Menu makan siang yang disiapkan Pak De adalah ikan tongkol belada hijau dan sayur ketole ‘gambas’ bening. Makan bersama kawan-kawan selalu menyenangkan untuk melepas lelah. 

Esoknya, hari Kamis (08/05), setelah salat subuh, Pak De menyeberang lagi ke Tanjungpinang untuk mengambil 60 kg ayam yang telah dipesan dua hari lalu.

Beliau hanya mengambil ayam, dan membeli beberapa bahan-bahan yang masih kurang.

Seperti biasa para juru masak yang membantu telah tiba di rumah Pak De pukul 07.30 pagi. 



Begitu sampai, pembagian tugas para juru masak langsung dilakukan. Mak Ani memotong tempe. Kak Tika memotong cabai merah, cabai hijau, dan mengupas bawang. Mak Pit mengupas nanas dan merebus telur. Mak Azizah dan Bang Edi membersihkan ayam.

Membersihkan ayam harus kuat karena menghabiskan waktu sekitar 1.5 jam. 

“Suka mual bersihkan ayam kalau banyak, tapi hari ini mendingan, biasanya 150 kg” ujar Bang Edi.

Pak De tetap dengan tugasnya menyiapkan santapan siang untuk kawan-kawan. Kali ini menu andalan Pak De yaitu siput isap masak lemak campur sayur pakis dan gulai kacang lendir ‘okra’.

Sesi pagi pekerjaan masih ringan. Untuk itu makan siang terlebih dahulu untuk menambah kekuatan menghadapi jam siang yang terik dan pekerjaan yang bertambah berat.

Selepas makan siang, energi telah penuh kembali, saatnya kerja, kerja, dan kerja. Para juru masak mengambil posisi, memasang kuda-kuda dan mengerjakan tugasnya. Kali ini Bang Edy masih berkutat dengan ayam. 

Ia harus menunggu Pak De yang sedang meramu bumbu ungkep untuk ayam 60 kg tersebut. Bang Edy mengambil tugas ungkep ayam dan menggoreng ayam.



Di lain posisi, empat srikandi juru masak sudah menggelar spanduk di bawah pohon kweni. Mereka hendak mengupas telur rebus tahap pertama sekitar 200 butir dan lanjut ke tahap keduanya.

Tak sah jika tak ada gelak tawa ketika ibu-ibu berkumpul, ada saja bahan obrolannya. Bernostalgia masa muda, sampai bercerita perihal warga. Mak Pit yang senang mendengarkan lagu pun tak ingin melewatkan menyetel lagu-lagu Band Dewa via streaming youtube sebagai backsound siang ini. 

Sekejap saja menyelesaikan kupas kulit telur. Setelah itu, Mak Pit, Mak Ani, dan Kak Tika mengulek sambal cabai hijau. Pak De meracik rempah serta bumbu dan Mak Azizah bagian menumis. Ada empat tumisan yang dibuat. 

Setelah selesai menggoreng ayam, bang Edy melanjutkan tugas lainnya. Oh ya, ada yang menggoreng telur, tempe, dan mencuci peralatan masak. Sepertinya semua sudah paham bagiannya masing-masing. Pekerjaan pun usai pukul 16.50 wib.

Dalam Hitungan beberapa hari lagi seluruh dunia akan memasuki bulan suci ramadan. Dalam tradisi masyarakat melayu, terutama di pulau Penyengat, dalam menyambut puasa biasanya masyarakat melakukan ziarah kubur, menggantikan kain kafan batu nisan, dan membuat kenduri arwah di rumah untuk mendoakan para sanak keluarga yang sudah meninggal. 

Bulan Sya’ban menjadi bulan kumpul keluarga, masak bersama, dan berbagi. Dengan adanya kenduri arwah juga menjadi momen dimana bertukar rasa jamuan istimewa yang dimasak para tetangga.

Setiap tahun pihak pengurus Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat  membuat hal yang sama, kenduri ‘arwah’ jamak. Jamak di sini menyatakan lebih dari satu atau banyak. Jadi mendoakan seluruh arwah di Pulau Penyengat. Wabil khusus almarhum Sultan, Raja, dan Syekh.

Pak Cik Karim (90 tahun) menuturkan bahwa kenduri jamak di Masjid sudah ada sejak beliau kecil. Berarti tradisi ini sudah turun temurun di masyarakat penyengat. Masyarakat akan menyumbang seikhlasnya ke pihak Masjid untuk mendanai pelaksanaan kenduri ini. 

Kegiatan memasak lauk dilakukan rumah sesiapa yang ditunjuk sebagai juru masak lalu dibawa ke Masjid untuk dihidangkan di pelataran masjid untuk disantap bersama setelah salat zuhur. 

Untuk tahun ini sedikit berbeda. Mempertimbangkan keadaan masih dalam pandemi, pengurus masjid memutuskan untuk hanya membagikan nasi kotak. Semua lauk yang dimasak satu hari sebelumnya dikemas dalam sajian nasi kotak untuk dibagikan kepada tiap jamaah. 

Penulis : Nurfatilla (@penyengat.culinary)

Editor : Adi Pranadipa

Pulau Penyengat Dalam Catatan Syekh Muhammad Thahir (1893-1904)

0

oleh Aswandi Syahri

Pada bulan Mei 1939, sepotong berita singkat dalam majalah Peringatan yang terbit di Pulau Penyengat, Tanjungpinang, mengelu-elukan kedatangan seorang ulama jang masjhor dan sekaligus ahli ilmu falak jebolan Universitas al-Azhar Cairo sebagai def  (tamu kehormatan) Radja Haji Ahmad, imam Masjid Jamik Pulau Penjengat.

Siapakah orang alim jang massjhor itu? Namanya adalah Syekh Muhammad Thahir Jalaluddin: seorang anak Minangkabau dari Nagari Koto Tuo, Ampek Angkek (sebuah kampung dekat Bukittinggi) yang ketika itu telah bermastautin di tanah Semenanjung. 

Dalam berita singkat yang berjudul “Ahli Falakiah Jang Masjhor Telah Tiba di Penjengat  tersebut, kepala pengarang (redaktur) majalah Peringatan menyapanya dengan sanjungan (sebagaimana ejaan yang lazim digunakan ketika itu) Toean Sjech Thahir Jalaloeddin Falaki al-Azhari bersempena nama almater dan bidang ilmu falak (astronomi) yang menjadi keahliannya.

Kedatangan Syekh Muhammad Thahir ke Pula Penyengat ketika itu, tidak disia-siakan oleh Goeroe-Goeroe (Sekolah) Agama di Pulau Penyengat. Sebelum toean Al-Allamah itu bertolak ke Singapura menggunakan kapal uap “Tandjongpinang” pada 11 Mei 1939, beliau telah diminta untuk mengajarkan “Ilmoe Miqat”, yakni ilmu untuk menghisab (menghitung secara astronomis) masuknya waktu sembahyang: suatu cabang ilmu astronomi yang ketika itu “hampir-hampir hilang di moeka boemi” karena rumitnya kandungan isi kitab-kitab Ilmu Miqat  yang ada.

Kutubkhanah minggu ini tidak lah bermaksud mengulas aktifitas Syekh Muhammad Thahir dalam kenjungan singkatnya ke Penyengat sebagaimana dilansir oleh majalah Peringatan edisi bulan Mei 1939. Beberapa alinea di atas hanya sekedar pembuka laluan untuk mengingat kembali hubungan rapat Syekh Muhammad Thahir dengan penduduk Pulau Penyengat dan pengaruhnya di Kepulauan Riau pada masa lalu.  

Hubungan dan pengaruh itu telah berlangsung lama. Ianya telah dimulai jauh sebelum  majalah al-Imam, yang dikelolanya di Singapura bersama Haji Abbas bin Muhammad Taha sejak tahun 1906 hingga 1908, hadir di Pulau Penyengat dan Kepulauan Riau-Lingga melalui Raja Ali kelana dan perwakilannya yang dipimpin oleh Khalid Hitam.

Hubungan Syekh Muhammad Tahir dengan Kepulauan Riau (khususnya dengan kaum cerdik-cendekia di Pulau Penyengat) palik tidak telah tercipta sejak akhir abad kesembilan belas. Hingga kini, jejak sejarahnya masih terekam dalam baris-baris tulisan jawi yang tersurat dalam lembaran-lembaran manuskrip tua menggunakan kertas Eropa yang dijahit menjadi buku.

Sekitar tujuh tahun tahun yang lalu, saya menemukan manuskrip berharga tersebut dalam koleksi besar arsip dan bahan-bahan lainnya milik Syekh Muhammad Tahir yang terdapat dalam simpanan Arkib Negara Malaysia di Kuala Lumpur. Manuskrip tersebut sesungguhnya tak berjudul. Namun, untuk kemudahan inventarisasi, pihak Arkip Negara Malaysia membubuhkan judul “Catatan Perlayaran Syek Thahir”.

Catatan hal ikhwal di Pulau Penyengat tahun 1898 dalam catatan harian Syekh Muhammad Thahir koleksi Arkib Negara Malaysia. (foto: aswandi syahri)

Pembacaan yang cermat atas manuskrip tersebut, menyimpulkan bahwa manuskrip tulisan tangan itu sesungguhnya adalah sebuah catatan harian (diary) Syekh Muhammad Thahir. Catatan hari itu tidak hanya mengabadikan ikhwal perlayaranya melintasi benua dan lautan antara Timur Tengah dan Negeri-Negeri di sekitar Selat Melaka saja,  tapi juga mencatat  berbagai peristiwa penting di ngeri-negeri yang dikunjunginya.

Setakat ini, Arkib Negara Malaysia menyimpan lebih kurang enam buah manuskrip catatan harian Syekh Muhammad Thahir (ditulis dalam bahasa Melayu dan Arab)  dan menjadi bagian dari koleksi besar arsip Syekh Muhammad Thahir yang diperoleh dari anaknya (Hamdan Syekh Thahir) pada tahun 2006. Hampir seluruh isi catatan harian tersebut berisikan bahan-bahan sumber yang sangat penting bagi menyingkap aspek-aspek dalam sejarah Kerajaan Riau-Lingga yang berlum pernah dijamah oleh para sejarawan dan pakar-pakar persuratan Melayu.

***

Hal ikkwal di Pulau Penyengat pada dekade terakhir abad 19 hingga awal-awal abad yang lalu antara lain tercatat dalam  salah satu manuskrip catatan harian Syekh Muhammad Thahir yang merekam aktifitasnya dan peristiwa yang dialamainya dalam rentang waktu antara tahun 1869 hingga 1923.

Bagian awal catatan harian ini dimulai dengan biografi singkat dirinya yang berisikan catatan ringkas tentang  tarikh ia dilahirkan, serta asal-usul orang tua dan keluarganya: 

Adalah Syeikh Muhamad Thahir adalah anak Syeikh Muhamad yang masyhur dengan gelar Tuan Syeikh Cangking, tempat gembala orang pada perkara yang bersangkutan dengan agama Islam, bin Tuanku Syeik Jalal-al-dinDiperanakan dia oleh (xxx, tidak ternaca) di Kota Tua [Koto Tuo] Ampat Angkat, oleh ibunya Gundam (xxx) Tuanku nan (xxx) Tuanku (xxx) Ampat Angkat, Syekh Tuanku Baginda (xxx) Tanjung Medan. Pada jam pukul 4.45 petang hari Selasa, 4 hari bulan Ramadhan  1286 Hijrah berbetulan 7 hari bulan Desembar 1869 Masehi…”

Dalam catatan harianya ini dinyatakannya bahwa ia menjejakkan kaki untuk pertamakali di Pulau Penyengat, setelah singga ke Bengkalis, Pakanbaru,  dan balik ke Singapura lalu ke Riau (Pulau Penyengat), pada 22 Zulhijah 1310 bersamaan dengan 7 Juli 1893.

Sejak saat itu ia selalu berulang-alik antara Pulau Penyengat, Singapura, Pulau Pinang, Johor, Summatera Timur, dan Sumatera Tengah, tanpa pernah pulang ke kampung halamannya di Sumatera Barat. Mulai tarikh itu pula ia berhubungan rapat dengan cendekia kerajaan Riau-Lingga di Pulau Penyengat seperti Raja Muhammad Thahir, Raja Ali Kelana,  Khalid Hitam, dan Said Abdulkadir.

Di Pulau Penyengat, Syekh Muhammad Thahir telah memperkenal metode falakiahnya kepada cendekia istana Riau-Lingga sejak tahun 1898. Dalam baris-baris catata hariannya ia menuliskan tentang hal itu sebagai berikut:

“Dan pada 15 Syafar [15 Syafar 1316 – 4 Juli 1898] pergi ke Riau Pulau Penyengat, berjumpa Syeik Muhamad Nur dan ditahan oleh Raja Muhamad Thahir Hakim bin al-marhum (xxx) a-rusydiah? (xxx) kerana hendak mengaji al-fala’ al-hisab  sampai bulan Rabi’ul-Akhir pergi ke Singapura. Lalu belayar dengan kapal, lalu Pulau Siantan Anambas bersama2 dengan Syeikh Muhamad Nur bin Ismail al-Khalidi dan Haji Khali-al-din kena penyakit beri2. Maka balik ke Singapura dengan tongkang kelapa kering (xxx) Syakban tahun 1316 (xxx)…”

Selama di Pulau Penyengat, Syekh Muhammad Thahir juga turut membantu anak-anak keluarga diraja Riau-Lingga melanjutkan pendidikan tinggi ke Timur Tengah (Mesir) pada awal abad yang lalu. Dalam catatan hariannya ia mencatat ikhwal perjalanannya ketika mengatar putra Sultan  Lingga-Riau dan sasudara-saudaranya ke Mesir pada tahun 1904:

“Pada 14 bulan Rajab 1322 (xxx) 1904 berlayar dengan kapal (xxx) Luwis bersama dengan Syeikh ‘Abdulrahman….Lalu…memeriksa perbekalan sekolah. Dalam 15 hari lalu belayar (xxx), mengambil Raja Hasan, dan Tengku Adam bin Raja Haji ‘Ali dan Tengku ‘Usman bin Sultan ‘Ab-al-Rahman Lingga dan dibawa ke Mesir pada bulan Sya’ban, dimasukkan ke Madrasah al-Khadiri Dalilah al-Said Zain”

Dari catatan harian ini, terlihat bahwa Syekh Muhammad Thahir juga terlibat (tanpa “tercium” para perisik Belanda, sehingga  tak tercatat dalam sebarang arsip Belanda sezaman) dalam ‘perlawanan-perlawan halus’ cendekia kerajaan Riau-Lingga terhadap politik kolonialisme Belanda antara tahun 1902 hingga menjelang tahun 1911. 

Oleh karena itu, bukan lah suatu yang mengherankan bila dalam himpunan arsip pribadinya yang kini tersimpan di Arkib Negara Malaysia juga terdapat salah satu salinan resmi Kontrak Politik tahun 1905 yang ditandatangani oleh Resident Riouw dan Sultan Riau-Lingga (Sultan Abdurahman Mu’azamsyahsyah); Sebuah kontrak politik yang menjadi salah satu pemicu ‘perlawanan-perlawanan’ dari para cendekia yang berhimpun dalam Perdirian Roesidijah (Club) Riouw Pulau Penyengat.***


Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau. Kini bermukim di Pulau Penyengat

Roesidijah (Club) Riouw P. Penjengat

0

oleh Aswandi Syahri

MENJELANG penghujung abad ke-19, sejumlah anak watan Kerajaan Riau-Lingga yang tercerahkan mulai bangkit dan berdepan-depan dengan kolonialisme. Jaringan komunikasi intelektual dengan Timur Tengah, terutama dengan Mekah, Mesir, dan Pattani, semakin membuka jalan ke arah perubahan dan pembaharuan dalam berbagai aspek kehidupan yang sebelumnya telah dirintis melalui jaringan ulama dan tasawuf.

Golongan yang tercerahkan ini kemudian membentuk sebuah perkumpulan yang diberi nama Roesidijah (Club) Riouw P. Penjengat (demikianlah cara penulisan nama perkumpulan itu dalam huruf latin atau rumi sebagaimana dicantumkan pada amplop surat-surat resmi perkumpulan ini)

Timothy P. Barnard (1994) dan Abu Hassan (1979) berpendapat, nama perkumpulan ini berasal dari penggabungan dua perkataan dalam dua bahasa.  “Roesidijah“ dari kosakata bahasa Arab yang berarti “cendekiawan “ dan “ Club” dari bahasa Belanda yang maknanya “perkumpulan“. Penggunaan kosakata bahasa Arab untuk nama perkumpulan ini erat kaitannya dengan agama Islam dan kebudayaannya bagitu kuat dalam kehidupan di Riau-Lingga pada masa itu. Bahasa Arab menjadi bahasa kedua pentingnya selepas bahasa Melayu karena anggota Club ini kebanyakannya adalah dari cendekiawan. Mereka adalah orang-orang yang fasih dalam bahasa itu, dan sebegaian besar dari mereka  adalah penulis dan pengarang (saya mengatakan sebagian besar, adalah tak semua anggota anggota perkumpulan itu menghasilkan karya tulis atau wajib menulis seperti yang selama ini diyakini).

Menurut Abu Hassan Sham (1979), penggunaan bahasa Belanda yang diwakili oleh perkataan Club dalam nama perkumpulan ini mencerminkan bahwa anggota perkumpulan ini berhaluan maju dan terbuka. Apalagi Pulau Penyengat, tempan perkumpulan ini bermastautin, letaknya berhampiran sekali dengan Tanjung Pinang, pusat pemerintahan kolonial Belanda di Riouw. Penggunaan kosakata Bahasa Belanda ini juga menunjukan bahwa perkumpulan ini sudah progresif dan tidak konservatif.  Anggotanya terdiri dari golongan muda yang berpandangan ke depan.

Agak sukar untuk menyebutkan dengan pasti tahun Roesidijah (Club) Riouw P. Penjengat ditubuhkan. Tetapi  dengan melihat komposisi anggotanya, diperkirakan ia  ditubuhkan menjelang akhir abad ke-19, atau sekitar tahun 1890-an.

Roesidijah (Club) sudah sepatutnya dicatat sebagai sebuah organisasi modern yang tertua di Indonesia. Mengapa? Jika dilihat dari susunan pengurusnya, perkumpulan ini sudah terstruktur sebagaimana layaknya sebuah organisasi atau sebuah perkumpulan modern. Ketua umumnya adalah seorang yang disebut Presiden Roesidijah (Club) yang juga berpangkat Tengku Besar dalam struktur pemerintahan kerajaan Riau-Lingga (meskipun demikian, lembaga yang dipimpinnya berada di luar struktur pemerintahan kerajaan). Di bawahnya terdapat timbalan (wakil ketua), wakil timbalan, sekretaris, dan anggota-anggota. Bahkan perkumpulan ini juga mempunyai perwakilan di kota Makkah al-Musyarafah.

***

Memasuki awal abad ke-20, tokoh-tokoh utama Roesidijah (Club) juga menjadi tokoh penggerak dalam perlawanan terhadap dominasi kolonial di Kerajaan Riau-Lingga. Namun uniknya, perlawaan mereka samar-samar namun terasa denyutnya oleh pemerintah kolonial. Mereka bergerak secara halus, secara pasif, tanpa sekalipun melakukan komunikasi resmi dengan wakil pemerintah Hindia Belanda di Riouw menggunakan nama Roesidijah (Club)  Namun demikian, satu hal yang pasti semua keputusan Sultan Kerajaan Riau-Lingga dalam hubungannya dengan wakil pemerimtah Hindia Belanda ketika itu adalah cerminan dari misi dan visi mereka.

Wakil pemerintah pemerintah Hindia Belanda di Tanjungpinang menyebut anggota-anggota Roesidijah (Club)  ini sebagai verzetpartij (kelompok perlawanan) atau “kelompok oposisi Bugis” dengan tokoh utamanya adalah: Raja Ali Tengku Kelana atau Raja Ali Kelana, Raja Hitam atau Raja Khalid Hitam, Raja Abdul Rahman Kecik, serta Tengku Besar, Tengku Umar, calon Sultan Riau-Lingga. Semuanya adalah tokoh penting Roesidijah (Club) yang besar pengaruhnya menjelang berakhirnya kerajaan Riau-Lingga pada tahun 1913.

Demikianlah, dari sebuah perkumpulan cendekiawan, Roesidijah (Club) akhirnya berubah menjadi sebuah perkumpulan “politik” yang menentang kolonialisme, yang tampil dengan corak  gerakan nasionalisme lokal awal dalam bentuk perlawanan melalui organisasi.

Tampaknya, sejak awal abad ke-20, anggota-anggota Roesidijah (Club) telah mulai mengawasi secara kristis langkah-langkah politik yang dibuat oleh Resident Riouw, dan membuat berbagai siasah yang memang diarahkan untuk memperlihatkan kedaulatan Kerajaan Riau-Lingga yang pada akhirnya memunculkan kemarahan Resident, wakil pemeritah Hindia Belanda di Tanjungpinang.

Sebelum ditandatanganinya Kontrak Politik tahun 1905, umpamanya, kelompok ini mengadakan meeting atau rapat membahas rencana Belanda itu di Rumah Raja Ali Kelana di Bukit Bahjah Pulau Penyengat pada tanggal 10 Fenbruari 1904. Begitu juga ketika pemerintah Belanda berencana membuat aturan agar “wakil kerajaan memberi  hormat dengan sehabis-habis hormat” kepada ambtenar (pejabat-pejabat Belanda) yang datang mengunjungi wilayah kerajaan Lingga-Riau. Benih-benih perlawanan ini semakin muncul ke permukaan ketika ketika fasal tiga ayat satu dalam kontrak politik tanggal 18 Mei 1905 itu menegaskan bahwa kerajaan Riau-Lingga adalah sebagai suatua achazah (pinjaman) dari pemerintah Hindia Belanda.

Bahkan sesungguhnya, jika dilihat jauh ke belakang, jauh sebelum Kontrak Politik itu ditandatangani, mereka adalah orang-orang yang berada di balik layar peristiwa bendera tahun 1902: sebuah pembangkangan terhadap hegemoni pemerintah Hindia Belanda dengan cara tidak menaikkan bendera Belanda di kapal kerajaan. Peristiwa ini dilaporkan oleh residen A.L. van Hasselt kepada Gubernur Jenderal di Batavia dengan menjelaskan bahwa Sultan Abdul Rahman adalah seorang pembangkang yang dikelilingi oleh anggota-anggota kelompok pelawanan yang berhaluan keras.

Setelah itu, sebuah peristiwa bendera lainnya terjadi kembali pada tanggal 1 Januari 1903 ketika Resident Riouw mengunjungi Sultan di Pulau Penyengat, dan menyaksikan bendera putih bertengkuk hitam milik Kerejaan Riau-Lingga berkibar merdeka tanpa didamping bendera mereha putih biru simbol kebesaran Kerajaan Belanda. Peristiwa ini mendapat teguran keras dari Resident Riouw. Dalam surat rahasianya kepada Gubernur Jenderal Roseboom di Batavia, Resident Riouw mengatakan: “Ia [Sultan Abdul Rahman] bertindak sebagai seorang raja yang merdeka dan menaikkan bendera sendiri.”

Dua peristiwa bendera adalah salah satu alasan yang memicu Belanda membuat kontrak politik baru pada tanggal 18 Mei 1905, yang di dalam fasal tiga belas ayat lima, enam, tujuh, dan delapan kontrak politik itu disebutkan aturan pemasangan bendera Belanda dan bendera Kerajaan Riau-Lingga. Ayat ketujuh kontrak politik tahun 1905 itu, umpamanya, mengatur bahwa tempat bendera Belanda harus lebih tinggi dari bendera Kerajaan Riau-Lingga sebagai berikut:

Adapun Sri Paduka Tuan Sultan Tetap memakai putih selaku tandanya sendiri di darat dan dilaut tetapi selamanya bersama bendera Holanda, dan tiada boleh lebih besar. Maka jikakalau memakai di darat tiang satu sahadja dikibarkan dibawah bendera belanda dan djikalau didarat tiang dua hendaklah tiang tempat bendera Holanda dibuat lebih tinggi dan dilaut djikalau tiada boleh dikibarkan dibawah bendera Holanda, hendaklah bendera Holanda, dinaikkan ditempat kehormatan di kapal itu.”

Arti penting anggoata-anggota Roesidijah (Club) Riouw P. Penjengat ini dalam perlawanan Kerajaan Riau-Lingga terhadap pemerintah Hindia Belanda juga dinyatakan dalam surat pemakzulan (abdicatie) Sultan Abdulrahman Mu’azamsyah dan Tengku Besar Kerajaan Riau-Lingga pada bulan Februari 1911. Bahkan, ketika pemakzulan itu terjadi, surat itu pemakzulan itu dibacakan oleh wakil pemerintah Hindia Belanda di gedung  Roesidijah (Club) Riouw,  sarang verzetpartij itu di Pulau Penyengat.

Dalam surat itu, pemerintah Resident Riouw sebagai wakil pemeritah Hindia Belanda menyindir Raja Ali Kelana, Tengku Besar dan anggota Roesidijah (Club) lainnya “sebagai orang berniat bermusuhan dengan Sri Padoeka Gouvernement Hindia Nederland ”.***


Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau. Kini bermukim di Pulau Penyengat

Jaringan Telepon di Tanjungpinang dimulai dari Pulau Penyengat Tahun 1904

0

Aswandi Syahri, Sejarawan. Bermastautin di Pulau Penyengat

Penggunaan sarana komunikasi telepon, lengkap dengan kabel jaringannya di Tanjungpinang ternyata telah dimulai oleh Sultan Riau-Lingga di ibukota kesultanan tersebut  Pulau Penyengat.

Sebuah dokumen dalam simpanan saya, mencatat bahwa sarana komunikasi ‘modern’ tersebut mulai dipasang di Pulau Penyengat pada hari Ahad (Minggu), pada tarikh 19 Zulhijah 1321 AH bersaman dengan 6 Maret 1904 CE.

Sejak tarikh 6 Maret 1904, tujuh titik bangunan dan tempat penting di Pulau Penyengat telah tersambung dengan jaringan telepon menggunakan kabel: disebut talipun. Di Pulau Penyengat, pusat atau ‘sentral’ talipun tersebut adalah Keraton (Istana Keraton) Sultan Abdulrahman Mu’azamsyah yang terletak Kampung Kota Berentang.

Dari Keraton jaringan talipun secara berturut-turut tersambung ke gedung Pabean (kantor cukai di pelabuhan Pulau Penyengat), gedung Kantor (gedung Mahkamah tempat Raja Muhammad Thahir berkantor), terus ke rumah Bentara Kiri dan ‘Kepala Arsip’ Raja Khalid Hitam, rumah Tengku Abdul Kadir yang kini dikenal sebagai Gedung Tengku Bilik, rumah Raja Haji Zainal yang berpangkat Bentara Kanan, serta ke rumah Raja Muhammad Thahir yang berpangkat Hakim dan kepala Mahkamah.

Coba bayangkan, bagaimana agaknya bahasa dan etika menggunakan talipun ketika seorang Bentara Kiri bernama Raja Khalid Hitam yang sedang berada di rumahnya, berbicara dengan Sultan Riau-Lingga yang sedang bersemayam di istananya di Pulau Penyengat. Apakah awal pecakapan talipun itu dimulai dengan perkataan Hallo juga?

Penggunaan jaringan talipun di pualau Penyengat diperkekirakan hanya bertahan selama tujuh tahun, dan berakhir pada tahun 1911.

Artikel Penuh dapat disimak di https://jantungmelayu.com/2020/05/telepon-dan-telefoonnet-di-tanjungpinang-1904-1939/

Bertandang Ke Istana Sultan Lingga di Pulau Penyengat Tahun 1904

1
Pemandangan ruang tamu (kamar tamoe) yang dilengkapi dengan perabotan, patung, dan vas bunga di istana Sultan Lungga, Sultan Abdulrahman Muazamsyah di Pulau Penyengat. Dimuat dalam majalah Bendera Wolanda tahun 1911 (foto: dokumentasi aswandi syahri)

Aswandi Syahri

Pada 1896 hingga beberapa tahun kemudian, Henri Jean Francois Borel sebenarnya pernah menjabat sebagai pegawai urusan orang-orang Cina (ambtenaar voor Chineesche) di Tanjungpinang. Namun, pada sebuah kunjungan kembali ke Tanjungpinang tahun 1904 ia dapat berkenalan dengan Sultan Lingga, Sultan Abdulrahman Muazamsyah, yang ketika itu telah bersemayam di Istana Keraton yang dibanguan oleh ayahanda (Yamtuan Muda Riau,  Raja Muhammad Yusuf) di Pulau penyengat.

Untuk pertama kalinya ia berkenalan dengan tuan Sultan dalam sebuah resepsi yang diadakan oleh Resident Riouw di rumah Keresidenan  van Riouw  (Gedung Daerah) di Tanjungpinag.

Sebagai seorang Eropa pengagum keindahan dan kemegahan negeri-negeri Timur, kesempatan itu tak disia-siakannya: ia sangat antusias dan ingin melihat istana tuan Sultan Lingga di Pulau Penyengat.

Borel akhirnya diundang secara resmi oleh Sultan Abdulrahman Muazamsyah untuk berkunjung ke istananya, dan menyaksikan pementasan teater bangsawan milik Tuan Sultan di Pulau penyengat.

Menjelang malam, tepat sehari setelah resepsi di rumah Residetn Riouw ia bertolak dari dermaga Tanjungpinang ke Pulau Penyengat menggunakan perahu khusus yang dikirim oleh Sultan Abdulrahman Muazamsyah. Ketika tiba di pintu gerbang istana, ia disambut oleh sultan dan pembesar kerajaan.

Apa saja yang ia saksikan di dalam ruang-ruang istana Sultan Lingga di Pulau Penyengat? Bagaimana kesan si Belanda itu? Dan bagaimana reaksi Borel ketika  Tuan Sultan memamerkan kemegahan isi istananya  kepada  sahabat Eropanya diiringi dengan senyuman yang penuh misteri?

Henri Borel menuliskan kesan dan kesaksian tentang istana Sultan Lingga di Pulau Penyengat dan selera sang Sultan dalam sebuah tulisan berjudul “Een Bezoek Bij den Sultan van Lingga” (“Sebuah Kunjungan Kepada Sultan Lingga”) yang diterbitkan untuk pertama kali dalam sebuah kumpulan tulisan berjudul Wijsheid en Schoonheid uit Indie pada tahun 1905. Tulisan  Henri Borel adalah laporan pertama yang ditulis orang Eropa tentang ‘rahasia’ di dalam istana Sultan Lingga di Pulau Penyengat.

Meskipun ditulis dengan gaya Belanda yang “angkuh” dan “sombong”, namun banyak hal menarik untuk disimak. Berikut ini adalah petikan beberapa bagian yang saya terjemahkan dari tulisan Henri Jean Francois Borel tersebut.

***

Pada sebuah resepsi yang diadakan oleh Resident Riouw di Tanjungpinang, saya melihatnya untuk pertama kali.

Seorang laki-laki bertubuh kurus, tinggi lampai, berusia sekitar empat puluh tahun, dengan gaya pseudo-westersch, mengenakan tuxedo (sejenis jas pakaian resmi pria), dengan sepatu yang disemir mengkilap.

Ada penyemat bunga terbuat dari perak menghiasi jasnya, berkilauan bertatahkan berlian yang besar. Bunga anggrek putih yang khusus baginya tersemat disitu. Mengenakan sebuah tutup kepala rendah berwarna hitam seperti yang digunakan perwira artileri Belanda, dimana tersemat sebuah bintang bertatahkan berilian yang berkilauan, dengan batu permata besar yang mahal di tengahnya.

Selain dua perhiasan tersebut, ia mengenakan sebuah kostum gaya Eropa yang tebuat dari laken hitam, yang tidak mengesankan sebagai seorang raja dari negeri Timur. Dan tanpa dua perhiasan itu, bisa saja ia dianggap sebagai seorang indo yang kaya.

“Sultan Lingga!” kata seorang Controleur kepada saya. “Bermastautin di Pulau Penyengat , sebuah pulau disini, di seberang Tanjungpinang”.

Saya memperkenalkan diri kepada Sultan,  dan tak lama kemudian larut dalam percakapan dengan Yang Mulia. Dalam kegembiaraan, akhirnya saya kembali berbicara dengan seorang raja dari Timur, dengan harapan yang benar-benar indah, untuk melihat hal-hal yang berkenaan dengan Negeri Timur, menceritakan kekaguman saya terhadap gamelan, wayang, dan tarian ronggeng.

Wajah cokelatnya tersenyum sedikit timpang, meskipun ia tidak terlalu percaya bahwa seorang  orang Barat bisa menemukan keindahan dari kemegahan dunia Timur. Ia tak punya gamelan, katanya. Dan juga tak punya wayang. Anda harus ke Jawa untuk melihatnya, dan ia adalah seorang Melayu asli (volbloed Maleier). Namun jika saya ingin melihat istananya, teater bangsawannya, dan sendratarinya, maka saya akan disambutnya, kapanpun saya datang berkunjung.

Pada pukul 7.30, saat malam menjelang, saya telah berada di dermaga Tanjungpinang, tempat dimana sebuah perahu layar besar milik Sultan Lingga menanti saya.   Dan kemudian menyeberang ke Pulau Penyengat, dalam laut yang tenang dan datar, dengan      perbukitan dan nyala api di kebun-kebun gambir dikejauhan, adalah  pengantar kemegahan sebuah kisah  dongeng dari Timur. Segala sesuatu di laut diam dan khusuk! Di bagian belakang perahu seorang matroos (kelasi kapal) memainkan suling, menerawang, dalam nada minor.

Ketika saya tiba di dermaga Pulau Penyengat saya berfikir: “sekarang saatnya tiba.”

Hanya dengan berjalan kaki, kami telah berdiri di depan pintu gerbang istana. Saya membungkuk sebagai penghormatan terhadap Sultan Lingga, pembesar kerajaan, yang menanti dengan penuh kebesarannya.

Suatu yang mengecewakan!

Saya berdiri di sebuah ruangan yang besar, luas, sejenis galerij, terbuka pada tiga sisinya, tempat dimana terdapat semua selera kemewahan Eropa modern yang buruk (Europeechen wansmaak) , tanpa kadar seni.

Semua perabotan yang tanpa gaya ini disediakan oleh “bagian-furnitur” perusahaan John Little & Robinson di Singapura tanpa dipikirkan dahulu, tanpa suatu gaya apapun. Kursi-kursi fantasi-modern, dengan beledu dan kain seperti beledu, berkain pintu, bertaplak meja, ada replika patung orang Moor yang mengerikan pada tiang berkaki, ada teraa-coota, vas yang sangat jelak, papan dinding yang penuh dengan gambar malaikat dan peri, foto berbingkai mewah, tanduk-tanduk dengan hiasan bunga. Mengerikan (affreus), sebuah mimpi buruk bagi seorang seniman. Begitulah kesan pertama saya tentang “istana” itu.

Sultan, yang sekarang meladeni saya di rumahnya sendiri, menanti dengan pakaian orang Timur (Melayu) yang indah, mengenakan jaket kotak-kotak buatan inggris dan sepatu kuning, berkerah tinggi dan dasi merah, tali pinggang empat pin, namun sama sekali tidak tampak gaya orang Timurnya.

Para pelayan pribumi ada dimana-mana, semuanya mengenakan pakaian cara Eropa, bercelana pendek, bersepatu rendah, dan kaus kaki hitam sebetis, dalam balutan seragam dengan jalinan benang emas.

Dan kini bermula sesuatu yang menyakitkan, yang tak mungkin saya lupakan. Sultan tampaknya bangga dengan dekorasi gaya Eropa di istananya. Saya harus melihat sebagian besar koleksi dalam istananya.

Dan sekarang kami berpindah dari satu ruangan besar ke ruangan besar lainnya, yang berfungsi layaknya gudang Hoynck of Fortmann, bahkan lebih buruk, karena disini ada sejumlah mebel gaya Empire dan Louis Quinze, dan bahkan ada yang bergaya abad pertengahan.

Di dindingnya ada lukisan dan piring raksasa (monsterachtige). Rak-raknya penuh dengan pernak pernik yang buruk. Ada patung-patung anjing, kucing, dan peri dari batu. Karena menjaga kesopanan diantara kami, saya harus mengatakan: “Bagoes! Bagoes sekali!.

Saya merasa terpicu, dan Sultan selalu menjawab dengan senyum, yang sampai sekarang tetap menjadi misteri bagi saya. Apakah makna segala kebangganan dan keindahan yang dimilikinya? Apakah suatu yang biasa saja atau ada rasa penghinaan terhadap pemerintahan orang Barat? Semua orang Timur punya senyum seperti itu, dan untuk orang Eropa yang belum mengerti, semua itu tetap menjadi misteri yang tak terungkap.

Pada sebuah balairung (receptive-zaal) dipasangkan dua buah potret besar yang pada bingkainya tertulis Ratu Belanda dan Pangeran Hendrik, yang ditulis oleh tangan Sultan sendiri. Dan sekali lagi Sultan menunjukkan senyum yang aneh.

Selanjutnya seorang nyonya “kehormatan” di istana itu menjelaskan sebuah sejarah. Sultan mempunyai hadiah-hadiah pernikahan yang indah yang dikrimkan untuknya oleh Yang Mulia Ratu Belanda, berupa sebuah rangkaian bunga ros hutan (rozenstruikje) yang tangkainya dari emas, daunnya dari perak, penuh dengan taburan permata berlian, sebuah hadiah diraja yang harganya beribu-ribu.***

Sumber : Jantungmelayu.com

Deskripsi Foto : Pemandangan ruang tamu (kamar tamoe) yang dilengkapi dengan perabotan, patung, dan vas bunga di istana Sultan Lungga, Sultan Abdulrahman Muazamsyah di Pulau Penyengat. Dimuat dalam majalah Bendera Wolanda tahun 1911 (foto: dokumentasi aswandi syahri)


Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau. Kini bermukim di Pulau Penyengat

Bersetia dengan Teh dari Sri Lanka

0

Teh Tarik Abu, Pulau Penyengat

SERINGKALI kebanyakan orang kesulitan mengudar konsepsi kebahagiaan. Panjang-panjang kalimatnya. Berderet-deret maknanya. Padahal kebahagiaan itu sederhana belaka.

Misalnya, ketika haus mendera usai berkeliling pulau Penyengat, lantas disuguhkan segelas teh tarik dingin, sudah bukan main bahagianya. Apalagi yang hadir ke atas meja adalah Teh Tarik Abu.

Bagi orang Tanjungpinang, terlebih warga Penyengat, teh tarik racikan Abu Bakar ini adalah garansi dari definisi teh tarik itu sendiri. Ingin ditegaskan bahwasanya teh tarik itu bukan cuma teh campur susu kental yang lantas disajikan dengan teknik ditarik dengan dua gelas. Tidak.

Siapa pun yang pernah merasakan kesedapan teh tarik sebenarnya, lidahnya akan paham minuman yang bisa disajikan panas atau dingin ini lebih dari teh-susu.

”Inilah mengapa teh yang kami pakai warnanya hitam, macam kopi o,” kisah Abu sambil meracik teh teh tarik pesanan pelanggannya, Kamis (22/2).

Jika menggunakan teh biasa, kata Abu, sebenarnya bisa-bisa saja. Namun, atas nama orisinalitas cita rasa teh tarik yang hakiki, ia tak bisa meminggirkan kualitas begitu saja. Sebab itu, pria 47 tahun ini setia menggunakan daun teh khusus yang, seperti kata dia tadi, warnanya hitam gelap dan merupai warna kopi.

Untuk mendapatkan teh bercitarasa tinggi itu, Abu harus mengerahkan tenaga menyeberang ke negeri jiran. Kata dia, tidak ada teh semacam itu di Indonesia. ”Ya jadi kalau stok habis, saya menyeberang ke Singapura, beli agak banyak, buat stok sekalian,” terang Abu.

Teh apa sebenarnya yang Abu pakai dalam meracik bergelas-gelas teh tarik yang dijajakan di kedainya di seberang masjid Penyengat? ”Saya pakai teh Sri Lanka. Sejak jualan dari tahun 1996,” ungkap Abu.

Bukan main. Teh dari negara bekas jajahan Inggris itu memang terkenal dengan hamparan kebun tehnya yang luas dan kualitasnya yang mendunia. Bahkan, jenama teh-teh kelas wahid juga menggunakan daun teh yang diambil dari Sri Lanka.

Tak ayal, jangan heran jikalau teh tarik racikan Abu ini sepenyesapan pertama sudah terasa beda di lidah. Dan selama hampir 12 tahun ini, Abu tak bisa berpindah teh dan hanya bersetia dengan teh dari Sri Lanka yang diperolehnya dari Singapura.

”Ya dari dulu saya belajar bikin teh tarik memang harus pakai teh Sri Lanka. Itu yang bikin beda teh tarik di sini dengan teh tarik di tempat lain,” kata Abu.

Tangannya yang cekatan dan piawai meracik teh tarik ini tidak mengada begitu saja.

Berguru pada Orang Marwari
Tidak ada keterampilan yang bisa diwariskan. Semua itu berasal dari latihan dan pengalaman. Bukan cuma berhari-hari. Kalau perlu bertahun-tahun. Dan keuletan semacam itu yang melincahkan tangan Abu dalam meracik gelas demi gelas teh tarik di Penyengat hari ini.

Dahulu, Abu pernah bekerja di Malaysia. Ketika itu, ia tak ingin sekadar bekerja dan menerima upah. Justru kesempatan bekerja di sana dimanfaatkannya sekaligus sarana belajar. Kepada juragannya yang orang Marwari, Abu belajar meracik teh tarik dengan citarasa tinggi. Pelan tapi pasti, Abu mulai mendapat kepercayaan.

”Pernah sampai disuruh bikin teh tarik dua ribu gelas sehari. Karena bos udah percaya dengan saya,” kenang Abu.

Kepercayaan ini pula yang kemudian membuat Abu diberi kesempatan menjalankan sendiri usahanya di Tanah Air. Oleh juragannya itu, keterampilan meracik teh tarik semakin dimatangkan dan sampai diberi jalan mendapatkan bahan baku teh yang bagus untuk meracik teh tarik.

Abu pun pulang ke Penyengat dan mulai merintis kedai teh tarik yang kini sohor tidak hanya di Penyengat, tapi juga di seantero Tanjungpinang.

”Orang Malaysia dan Singapura kalau main ke Penyengat selalu suka dengan teh tarik Pak Ngah Abu. Karena ya itu tadi, rasanya khas dan seperti yang ada di negara asal mereka,” kata sejarawan Aswandi sembari menikmati segelas teh tarik racikan Abu. (fatih / Tanjungpinang Pos)

Sumber : http://tanjungpinangpos.id/bersetia-dengan-teh-dari-sri-lanka/

Cart